iWin Notes

April 20, 2006

Dari Warnet ke Warnet :D

Filed under: Travel — tayuang @ 9:23 pm

Selama seminggu di Jakarta, saya mencoba
untuk mengunjungi beberapa warnet. Maklum aja, sebagai orang yang
terjajah teknologi terutama teknologi internet :p warnet merupakan
sarana yang paling pas untuk online selain dari rumah via telkomnet
instan yang mahal itu D

Dari
beberapa warnet yang saya kunjungi, ada beberapa catatan yang saya
beberkan di tulisan ini. Yang jelas ada warnet yang bagus, cukup bagus,
hingga yang mengecewakan.

Warnet yang pertama saya kunjungi
lokasinya di Radio Dalam, koneksinya menggunakan wireless dan bagus
(baca: cepat) komputer juga bagus. Waktu saya menanyakan apakah saya
bisa menggunakan notebook, si operator mengatakan tidak bisa. Saya
melihat kebingungan sepersekian detik :p tapi dengan pandai dia
mengatakan “tidak bisa mas, gak ada kabel yg tersedia” dan saya kira
itu lebih baik daripada operator warnet berikut yang saya datangi esok
harinya di daerah Ciputat / UIN yang membiarkan saya menunggu selama 5
menit hanya untuk menunggu seorang teknisi yang cuma bisa cengengesan
dan mengatakan “tidak bisa” dan si operator hanya sibuk dengan layar
chattingnya. Owner warnet, anda semuanya harus menegur dengan keras
operator anda yang cuma sibuk chatting pada saat jam kerja.

Di
warnet yang ketiga, sang operator memberikan kesempatan bagi saya untuk
mencolokkan kabel UTP ke port LAN di notebook tapi sayang sekali…, si
operator mengira cukup dengan mencolokkan kabel ke notebook maka semua
bisa jalan. padahal saya masih memerlukan informasi IP address, gateway
dan DNS (
dan setelah melihat sang operator tidak bisa membantu sama sekali, saya
menyerah dan membuka terminal lain dan pada saat itu saya sadar jika
koneksi internet lagi putus!!!!

Dengan putus asa, akhirnya saya
menuju warnet teman saya sendiri di daerah Kelapa Dua (Depok). Disana
tentu saja saya bisa menyambung notebook dengan lancar tanpa halangan,
si owner juga tau informasi apa yang saya perlukan untuk setting tcp/ip
pada notebook ( sejujurnya tetap saja saya menganggap dia perlu
memasang servis DHCP daripada repot ngurusin IP Address untuk 30 PC )
apakah problem saya selesai? Ternyata belum. Dari warnet teman saya
tersebut, saya tidak mem”POP” email maupun mengakses email saya via
web. Saya cek dengan admin ISP di Makassar tidak ada masalah dengan
email server dan web server mereka ( Sorry Dani, saya ngerepotin jam 4
pagi D  ) saya harus nyari proxy anonymous dulu untuk bisa mengakses via web.  3 POP mail saya tetap tidak bisa di akses.

Hari
ini, saya jalan2 di Blok M Plaza dan melihat sebuah warnet di Mall
tersebut. Isinya penuh, saya harus menunggu sebentar untuk mendapatkan
tempat dan ketika mengklik “start” pada billing. surprise!!! it’s a
Linux D  menyenangkan )
dan aksesnya cepat, saya mengakses email, yahoo mail, gmail, chatting
sebentar dengan teman-teman di Makassar. tarifnya Rp 4000/30 menit.
Mahal? Dengan kecepatan seperti ini, saya tidak merasa mahal sebab saya
bisa mengecek ke tiga web mail dengan cepat dan tidak perlu menunggu
lama sehingga 30 menit itu benar-benar efisien. Ketika mencoba bertanya
ke Operator mengenai distro yang di gunakan, dia berkata bahwa mereka
menggunakan berbagai distro ( ubuntu, Lex dll ).

Untuk
warnetters ( warnet owner’s), apa yang saya tulis ini adalah pendapat
pribadi yang tentu saja berdasarkan kebutuhan saya mengenai akses
internet. Apakah semua user seperti saya? Sudah tentu tidak. Tapi saya
kira catatan mengenai sikap, pelayanan dan pengetahuan Operator sangat
mempengaruhi kepuasan user. di warnet yang kedua saya sangat kecewa
karena di biarkan menunggu oleh operator yang tidak bisa memalingkan
muka sedetik pun dari monitor. di warnet yang ketiga, walaupun kecewa
tapi usaha sang operator untuk melayani saya sebaik mungkin cukup
mengobati rasa kecewa dan saya akhirnya menyalahkan koneksi yang putus
:p

Jakarta 21 April 2006

April 15, 2006

Ketika Kebijakan Memakan Pembuat Kebijakan

Filed under: Current Affairs — tayuang @ 9:18 pm

Hari ini saya berkesempatan untuk berbincang-bincang dengan seorang
perwira tinggi di ruang kerjanya. Kesempatan yang jarang. Dari
perbincangan singkat itu, saya menangkap jika beliau mengerti benar
bagaimana kecepatan memperoleh informasi sangat membantu tugas beliau
dalam mengungkap kejahatan dan membekuk pelaku kejahatan istimewa/luar
biasa.

Tapi catatan ini bukanlah mengenai hal itu. Dari
perbincangan itu, saya menangkap kenyataan bahwa kebijaksanaan
infrastruktur telekomunikasi data kita bukan hanya menyusahkan rakyat
karena menghasilkan biaya yang (sangat) tinggi namun pada akhirnya
memakan pihak pemerintah juga si pembuat kebijakan.

Mengapa
saya katakan seperti itu? Begini, lembaga yang di kelola perwira tinggi
tersebut ingin mengkoneksikan banyak titik penting yang perlu bagi
kelancaran tugas lembaga tersebut. Tapi kelihatannya keinginan beliau
terhalang oleh mahalnya biaya koneksi tersebut. Yang lebih menyedihkan
adalah: ketika permintaan koneksi data tersebut adalah nyata untuk
kepentingan negara dan isinya, tetap saja tidak ada solusi yang
tersedia.

Mahalnya koneksi tersebut bahkan sudah sampai pada
tahap yang membahayakan, karena yang terjadi adalah: Bahkan lembaga
pemerintah pun akhirnya terbelenggu oleh mahalnya biaya komunikasi
data, sehingga sebuah lembaga yang tugasnya (sangat) penting bagi
negara ini harus “pontang panting” demi sebuah koneksi data.

Kebijaksanaan
infrastruktur komunikasi data harus segera direvisi dan dipertimbangkan
fungsinya bagi pencerdasan bangsa dan kepentingan negara lainnya.
Menghambat komunikasi melalui biaya (sangat) mahal sama saja membiarkan
bangsa ini tenggelam dalam keterbatasan informasi dan pada akhirnya
menghalangi kemajuan dan kemampuan bangsa ini dalam menghadapi
tantangan tantangan zaman dan masa depan demi sebuah angka keuntungan
yang sebagian (besar?) malah jatuh ke pihak asing.

Jakarta, 14 April 2006

WPMU Theme pack by WPMU-DEV.