Siapa yang suka di traktir di Restoran yang mahal, bagus dan enak? Siapapun suka, sudah
makan enak, tempat nyaman, gak bayar lagi. Nah seandainya kita bisa ditraktir setiap hari
tentu kita semua tidak akan menolak. Akan tetapi marilah bicara realita, kalau kita tidak
ditraktir apa yang terjadi? Yah, tentu kita semua akan berpikir setiap saat makan di
Restoran mahal yang bisa jadi tidak enak lagi karena waktu makan kepikiran harganya yang
mahal termasuk penyakit gara-gara makanan enak.
Di dunia Teknologi Informasi, kita ini bagaikan orang miskin yang terus menerus di traktir
di Restoran mahal, meskipun kita tahu kalau yang kita makan bisa menyebabkan kita
kolesterol tinggi dan menyebabkan serangan jantung, tetap saja kita makan.
Itulah yang terjadi pada sebagian besar masyarakat pengguna TI di Indonesia, sekian tahun
dilenakan oleh "traktiran" software bajakan telah membuat masyarakat pengguna komputer
tidak sadar betapa kolesterol "biaya" yang tinggi itu menumpuk dan menyebabkan serangan
Stroke "HAKI" dan Jantung "Sweeping Warnet".
Ketika serangan Stroke HAKI dan Jantung Sweeping, maka kelabakanlah masyarakat pengguna TI
Yang tadinya disebut mudah ternyata menyusahkan. Penulis sendiri sampai sekarang masih
rancu dengan kata mudah dan susah, karena yang mana lebih susah membeli sesuatu yang mahal
sampai harus jualan harta benda yang susah dapatnya atau sama-sama belajar menggunakan
sesuatu yang katanya susah tapi tidak susah dapatnya. Mana yang susah mana yang mudah?
Ada ilustrasi singkat mengenai bagaimana "Susah"nya software yang "Mudah" ini. Setiap
tahunnya jumlah komputer (baca: PC) yang terjual di Indonesia kurang lebih 1 juta unit.
Tentunya karena kita telah kena Stroke HAKI maka legalisasi adalah obatnya. karena
umumnya mencari Software yang "mudah" maka biaya obatnya berdasar resep dokter HAKI bin
Legal adalah sebagai berikut:
1. Obat OS, USD 145
2. Obat Office, USD 360
3. Obat Anti Virus, USD 45
—————————
Total biaya obat: USD 550
Perkiraan jumlah komputer rakitan adalah 70% dari jumlah komputer yang beredar dan secara
tidak langsung terkena penyakit HAKI sehingga jika kita kalikan jumlah tersebut dengan
biaya obat maka Jumlah Total biaya pengobatan per tahun adalah:
USD 550 x 700.000 PC = USD 385.000.000 x Rp 9800 = Rp 3.773.000.000.000 ( tiga triliun,
tujuh ratus tujuh puluh tiga milyar )
Biaya pengobatan yang mengejutkan, sungguh suatu yang sangat mahal bagi suatu kemudahan
yang saat inipun masih diperdebatkan.
Apakah ada obat lain? Seperti halnya dengan dunia kedokteran, ada obat generik. Obat ini
jauh lebih murah dan dalam beberapa hal ternyata jauh lebih manjur daripada obat bermerek.
Lebih bagus lagi, selain lebih murah ternyata obat generik ini bisa kita racik sendiri
sesuai dengan kebutuhan kita tanpa perlu takut ada produsen yang menuntut hak cipta sebab
obat tersebut hak ciptanya sudah diberikan kepada masyarakat. Malah akhir-akhir ini para
produsen obat mulai membuat obat generik yang sama yang bebas dibuat juga.
Sayang sekali jika kita tidak memanfaatkan obat generik ini, selain murah kita juga dapat
belajar dan akhirnya ikut membuat juga obat generik sendiri. Daripada uang kita
dihabiskan untuk obat bermerek yang mahal dan belum tentu sembuh mendingan uang itu kita
gunakan untuk membangun pembangkit listrik baru bagi PLN sehingga kejadian padam bergilir
harian yang saat ini dihadapi penulis bisa di obati.
Keterangan:
Obat Bermerek = Software Propierty
Obat Generik = Open Source Software dengan lisensi GPL